Showing posts with label karena. Show all posts
Showing posts with label karena. Show all posts
Tuesday, April 22, 2014
Pedal Rem Keras Karena Kebocoran Kevakuman
Selain pemasangan one way valve harus benar, hal lain yang mempengaruhi kemampuan kerja booster rem dalam sistem pengereman adalah kevakuman pada intake manifold (atau, kevakuman pompa vakum pada mesin diesel). Vakum maksudnya kondisi yang hampa udara.
Berkat kevakumanlah membran pada booster rem dapat terhisap.
Kevakuman ini terjadi saat mesin hidup. Sampai di sini, memang belum terjadi proses pengereman putaran roda. Sistem pengereman masih membutuhkan sumber-sumber tenaga lagi agar membran booster rem semakin menggerakkan push rod (batang penekan) yang pada akhirnya mengakibatkan proses pengereman.
Secara keseluruhan ada tiga daya yang diperlukan dalam proses pengeremen: Pertama, kevakuman; kedua, injakan kaki ke pedal rem; ketiga, dorongan dari udara luar (yang mengalir melalui air valve atau katup udara). Ketiganya bekerja secara bersamaan. Pergerakan membran booster rem semakin terjadi ketika kaki kita menginjak pedal rem.
Diantara tiga daya itu, secara teknis kevakuman memegang peran yang paling besar dan paling dominan dalam memperingan tekanan pedal rem. Itu sebabnya, ketika kevakuman tidak berfungsi dengan baik, pengaruhnya sangat terasa: pedal sangat keras.
Satu-satunya penyebab yang mengakibatkan kondisi kevakuman tidak terjadi adalah adanya udara yang masuk dengan bebas ke ruang yang semestinya vakum. Hal ini sering disebut dengan istilah "kebocoran kevakuman".
Untuk mendeteksi ada tidaknya kebocoran kevakuman sangatlah mudah. Ikuti langkah-langkah berikut ini:
Hidupkan mesin dan perhatikan block mesin. Kevakuman yang bocor akan membuat getaran mesin terlihat pincang (salah satu silinder tidak bekerja dengan baik). Tandanya, getaran mesin tidak stabil. Kadang keras, kadang pelan.
Untuk lebih memastikan, tutuplah saluran udara masuk yang terdapat pada karburator (atau throttle body pada sistem injeksi). Tapi, jangan terlalu rapat, karena bisa menyebabkan mesin mati. Bila saat Anda tutup putaran mesin ternyata lebih stabil, bisa dipastikan itu pertanda telah terjadi kebocoran kevakuman.
Jadi, bila pedal rem terasa berat dan Anda menemukan indikasi-indikasi di atas, segera atasi masalah kebocoran kevakuman. Cuma, komponen atau bagian yang memicu terjadinya kebocoran kevakuman sangat banyak. Misalnya, kebocoran selang, kebocoran yang disebabkan oleh kondisi katup-katup, atau kebocoran kevacuman pada karburator.
Untuk mengatasi kebocoran kevakuman dengan tepat, kita terlebih dahulu harus memastikan komponen atau bagian mana yang menjadi penyebab utama. Ulasan tentang hal ini akan kami berikan pada edisi berikutnya. (Source : AstraWorld)
Selengkapnya
Berkat kevakumanlah membran pada booster rem dapat terhisap.
Kevakuman ini terjadi saat mesin hidup. Sampai di sini, memang belum terjadi proses pengereman putaran roda. Sistem pengereman masih membutuhkan sumber-sumber tenaga lagi agar membran booster rem semakin menggerakkan push rod (batang penekan) yang pada akhirnya mengakibatkan proses pengereman.
Secara keseluruhan ada tiga daya yang diperlukan dalam proses pengeremen: Pertama, kevakuman; kedua, injakan kaki ke pedal rem; ketiga, dorongan dari udara luar (yang mengalir melalui air valve atau katup udara). Ketiganya bekerja secara bersamaan. Pergerakan membran booster rem semakin terjadi ketika kaki kita menginjak pedal rem.
Diantara tiga daya itu, secara teknis kevakuman memegang peran yang paling besar dan paling dominan dalam memperingan tekanan pedal rem. Itu sebabnya, ketika kevakuman tidak berfungsi dengan baik, pengaruhnya sangat terasa: pedal sangat keras.
Satu-satunya penyebab yang mengakibatkan kondisi kevakuman tidak terjadi adalah adanya udara yang masuk dengan bebas ke ruang yang semestinya vakum. Hal ini sering disebut dengan istilah "kebocoran kevakuman".
Untuk mendeteksi ada tidaknya kebocoran kevakuman sangatlah mudah. Ikuti langkah-langkah berikut ini:
Hidupkan mesin dan perhatikan block mesin. Kevakuman yang bocor akan membuat getaran mesin terlihat pincang (salah satu silinder tidak bekerja dengan baik). Tandanya, getaran mesin tidak stabil. Kadang keras, kadang pelan.
Untuk lebih memastikan, tutuplah saluran udara masuk yang terdapat pada karburator (atau throttle body pada sistem injeksi). Tapi, jangan terlalu rapat, karena bisa menyebabkan mesin mati. Bila saat Anda tutup putaran mesin ternyata lebih stabil, bisa dipastikan itu pertanda telah terjadi kebocoran kevakuman.
Jadi, bila pedal rem terasa berat dan Anda menemukan indikasi-indikasi di atas, segera atasi masalah kebocoran kevakuman. Cuma, komponen atau bagian yang memicu terjadinya kebocoran kevakuman sangat banyak. Misalnya, kebocoran selang, kebocoran yang disebabkan oleh kondisi katup-katup, atau kebocoran kevacuman pada karburator.
Untuk mengatasi kebocoran kevakuman dengan tepat, kita terlebih dahulu harus memastikan komponen atau bagian mana yang menjadi penyebab utama. Ulasan tentang hal ini akan kami berikan pada edisi berikutnya. (Source : AstraWorld)
Wednesday, April 2, 2014
Karena Terbiasa Injak Pedal Gas Setiap Mematikan Mesin
Coba perhatikan berapa lama waktu yang dibutuhkan mesin mobil Anda untuk benar-benar mati? Mestinya, begitu kunci kontak kita putar ke posisi OFF, putaran mesin tak dengar lagi. Kalaupun berputar, cukup 1 sampai 2 putaran saja. Bila mesin masih berputar lebih lama dari itu, harap sedikit waspada. Barangkali mobil Anda mengalami dieseling.
Dieseling adalah masih berputarnya mesin secara berlebihan setelah kunci kontak diposisikan off. Kasus ini terjadi pada mesin berbahan bakar bensin. Gejala ini tergolong kondisi yang tidak normal. Secara teknis, mesin seharusnya langsung mati ketika kunci kontak kita posisikan OFF. Sebab, pada saat itu supply bensin terputus dan percikan api dari busi padam. Artinya, pembakaran di ruang bakar terhenti dan mesin tak mendapat energi untuk berputar.
Selama ini banyak pengendara yang menganggap ringan bila mendapati mesin bensin yang masih berputar meskipun telah dimatikan. Seolah, kasus semacam ini tidak terlalu berpengaruh pada kenyamanan dan keselamatan berkendara. Padahal, kalau kita perhatikan baik-baik, dampak-dampak dieseling sebenarnya sangat banyak.
Memperpendek usia busi. Ini akan terjadi karena busi mobil yang mengalami dieseling cenderung basah. Kondisi yang basah ini memudahkan terjadinya hubungan singkat (korsleting) pada busi. Bila sudah seperti ini, busi akan cepat panas yang kemudian akan mempercepat retaknya busi atau putusnya resistant (tahanan) pada busi.
Dieseling juga menunjukkan bahwa pembakaran tidak sempurna. Ini berarti dieseling akan dapat mempercepat timbulnya kerak karbon pada ruang bakar. Efek berikutnya, mesin ngelitik dan mempercepat keausan pada mesin (piston, silinder mesin, ring piston).
Mesin yang mengalami dieseling pada umumnya akan lebih susah dihidupkan. Sebab, pada ruang bakar biasanya terdapat terlalu banyak bahan bakar. Lama kelamaan ini akan membuat aki soak.
Berikutnya adalah efek pada engine mounting. Dieseling indentik dengan putaran mesin yang tidak stabil. Dengan ketidakstabilan putaran mesin maka mounting akan meredam getaran mesin secara tidak stabil pula. Ini yang akan mempercepat retak atau kerasnya mounting mesin.
Secara teknis, beberapa hal yang menjadi pemicu dieseling, diantaranya adalah: Pertama, sistem cut-off bahan bakar tidak berfungsi dengan baik; Kedua, kerak karbon pada ruang bakar yang berlebihan sehingga menimbulkan bara pada ruang mesin; dan Ketiga, (yang berasal dari unsur perilaku pengendara) dieseling muncul karena saat mematikan mesin pengendara terbiasa menginjak pedal gas.
Dari tiga penyebab itu, kita dapat mengetahui apa-apa saja yang dapat kita lakukan agar mesin mobil kita tidak mengalami dieseling.
Hindari menginjak pedal gas saat mematikan mesin.
Periksa sistem cut-off bahan bakar. Perbaiki bila masih terjadi kebocoran aliran bahan bakar.
Bersihkan kerak ruang bakar mesin secara periodik, alangkah baik setiap 80.000 km atau dengan menggunakan bahan additive pembersih ruang bakar yang banyak dijual dibengkel-bengkel. (Source : AstraWorld)
Selengkapnya
Dieseling adalah masih berputarnya mesin secara berlebihan setelah kunci kontak diposisikan off. Kasus ini terjadi pada mesin berbahan bakar bensin. Gejala ini tergolong kondisi yang tidak normal. Secara teknis, mesin seharusnya langsung mati ketika kunci kontak kita posisikan OFF. Sebab, pada saat itu supply bensin terputus dan percikan api dari busi padam. Artinya, pembakaran di ruang bakar terhenti dan mesin tak mendapat energi untuk berputar.
Selama ini banyak pengendara yang menganggap ringan bila mendapati mesin bensin yang masih berputar meskipun telah dimatikan. Seolah, kasus semacam ini tidak terlalu berpengaruh pada kenyamanan dan keselamatan berkendara. Padahal, kalau kita perhatikan baik-baik, dampak-dampak dieseling sebenarnya sangat banyak.
Memperpendek usia busi. Ini akan terjadi karena busi mobil yang mengalami dieseling cenderung basah. Kondisi yang basah ini memudahkan terjadinya hubungan singkat (korsleting) pada busi. Bila sudah seperti ini, busi akan cepat panas yang kemudian akan mempercepat retaknya busi atau putusnya resistant (tahanan) pada busi.
Dieseling juga menunjukkan bahwa pembakaran tidak sempurna. Ini berarti dieseling akan dapat mempercepat timbulnya kerak karbon pada ruang bakar. Efek berikutnya, mesin ngelitik dan mempercepat keausan pada mesin (piston, silinder mesin, ring piston).
Mesin yang mengalami dieseling pada umumnya akan lebih susah dihidupkan. Sebab, pada ruang bakar biasanya terdapat terlalu banyak bahan bakar. Lama kelamaan ini akan membuat aki soak.
Berikutnya adalah efek pada engine mounting. Dieseling indentik dengan putaran mesin yang tidak stabil. Dengan ketidakstabilan putaran mesin maka mounting akan meredam getaran mesin secara tidak stabil pula. Ini yang akan mempercepat retak atau kerasnya mounting mesin.
Secara teknis, beberapa hal yang menjadi pemicu dieseling, diantaranya adalah: Pertama, sistem cut-off bahan bakar tidak berfungsi dengan baik; Kedua, kerak karbon pada ruang bakar yang berlebihan sehingga menimbulkan bara pada ruang mesin; dan Ketiga, (yang berasal dari unsur perilaku pengendara) dieseling muncul karena saat mematikan mesin pengendara terbiasa menginjak pedal gas.
Dari tiga penyebab itu, kita dapat mengetahui apa-apa saja yang dapat kita lakukan agar mesin mobil kita tidak mengalami dieseling.
Hindari menginjak pedal gas saat mematikan mesin.
Periksa sistem cut-off bahan bakar. Perbaiki bila masih terjadi kebocoran aliran bahan bakar.
Bersihkan kerak ruang bakar mesin secara periodik, alangkah baik setiap 80.000 km atau dengan menggunakan bahan additive pembersih ruang bakar yang banyak dijual dibengkel-bengkel. (Source : AstraWorld)
Subscribe to:
Posts (Atom)